Burning Tires January 15 | Biography Journalism
i walk over to the campus. i want to hear
the city’s heart.
BAN BAKAR 15 JANUARI
aku berjalan ke sekolah. mengenakan celana
panjang yang melebar di bagian bawahnya. hari
pertama masuk sekolah sma di budi utomo.
BAN BAKAR 15 JANUARI
aku berjalan ke sekolah. mengenakan celana
panjang yang melebar di bagian bawahnya. hari
pertama masuk sekolah sma di budi utomo.
tetapi hari ini jakarta sedang memakai baju yang
terbakar. asap hitam bergulung-gulung ke atas.
api seperti gumpalan-gumpalan awan merah yang
turun di jalan. mobil-mobil sedang dibakar. pusat
pertokoan proyek senen, bangunan bertingkat
pertama yang menelan ratusan toko di jakarta,
sedang menjadi api. kota itu seperti sedang
memperlihatkan dirinya yang lain, aneh dan gila.
para pengemudi kendaraan pribadi gemetar,
panik, meninggalkan mobilnya. mobil yang
dibakar bertambah banyak lagi. kaca-kacanya
pecah, atapnya penyok diinjak-injak. jantung itu
lumpuh oleh kobaran api dan asap. kepalaku
seperti ban mobil yang ikut terbakar.
setelah jantung, ginjal, empedu, api makar,
kota seperti paru-paru yang meledak dipenuhi
asap ketimpangan sosial. aku masuk ke dalam
gerbang sekolah sma untuk pertama kalinya,
sebuah bangunan kolonial dengan tembok tebal
dan pohon-pohon besar yang masih tersisa di
halamannya. ruangan kelasnya terbuka. aku
mencoba duduk di bangku kelas, mataku masih
bisa memandang keluar: lapangan basket, bunga-
bunga nusa indah, talang air dan tiang bendera.
api masih berkobar. di luar, orang dibakar oleh
duga-dugaan liar. sekolah pertama yang disambut
dengan 15 januari 1974, jam 12 siang. aku
mendengar mahasiswa melakukan demonstrasi.
aku tidak tahu mahasiswa itu makhluk apa?
peristiwa malari membakar semua kendaraan
buatan jepang. perdana menteri jepang, tanaka,
sedang berkunjung ke jakarta. dan mahasiswa
menyambutnya dengan membakari kendaraan-
kendaraan buatan jepang, menolak modal
asing yang mengancam. bakar dan jarah. aku
mendengar hariman siregar, ketua dewan
mahasiswa universitas indonesia melakukan rapat
massa di ui salemba.
aku berjalan ke kampus itu. aku ingin mendengar
hati kota ini. baru kali ini aku jadi bagian dari
massa. belajar politik dari ban mobil dibakar.
massa dan aku berada di tempat yang sama,
pada kobaran api yang sama. aku adalah massa
yang sendiri. jaket kuning dan raungan hariman
yang disebut sebagai “harimau kampus” sedang
pidato. dia minta mengumpulkan semua bangkai
mobil yang terbakar, untuk ditukar dengan teman-
temannya yang telah ditangkap. militer juga
meraung — pasar malam di prinsen park mangga
besar.
aku pulang. orang masih berkumpul menyaksikan
proyek senen dipenuhi asap. api memasuki lantai-
lantainya. memasuki ratusan toko di dalamnya.
ibu bilang proyek senen tidak hanya dibakar,
seluruh isi tokonya dijarah. emas, sepatu, pakaian,
jam tangan, tv dijarah. kota tiba-tiba
seperti terjungkal di hadapanmu. aku mulai tidak
bisa mendengar hati kota ini, kota yang tambah
cerewet dan sering membentak. kota yang kian
tumbuh dengan subu api di dalamnya. kota
yang tumbuh dengan mencincang-cincang tubuh
lamanya menjadi tubuh baru yang aneh.
makar itu menciptakan nama-nama baru di
kalangan mahasiswa dan militer, antara jenderal
sumitro dan ali murtopo. jenderal-jenderal
kalajengking yang ingin menggigit kekuasaan.
menciptakan panggung baru dalam politik negeri.
politik dengan sumbu api yang tidak tahu asal
apinya, tetapi selalu tahu sumbu apa saja yang
mudah dibakar: ras, agama, dan ketimpangan
sosial. sejarah militerisasi kata-kata atas nama apa
pun. ada motif kudeta di dalamnya, kata orang-
orang. mungkin juga ada motif pembagian modal
asing, kata orang-orang.
malam hari, hujan turun dengan dersasnya. rumah
kami mulai dimasuki air dan banjir. air hujan
tidak hanya turun dari dapur kami yang bocor,
juga merembes dari lantai rumah. aku mendengar
pintu diketuk dengan keras, suara-suara sepatu
yang tak aku kenal masuk, menimbulkan suara
air yang memenuhi lantai rumah. mereka
menyorotkan lampu senter ke mataku. mereka
tentara yang sedang mencari para penjarah. lampu
senter tentara menyorot ke mataku, rasanya
tidak pernah hilang hingga kini bersama api itu.
bersama ban mobil yang terbakar dalam kepalaku.
datsun sudah menjadi warga amerika. membuat
negara baru di mana-mana. hari pertama aku
masuk sekolah, belajar politik dari ban bakar.
JURNALISME BIOGRAFI
daun-daun nangka jatuh, angin, melayang, daun-
daun nangka nancap pada dinding rumah.
halaman dikelilingi halaman. rumah jawa, dinding
kayu dan rayap. pintu rendah, kepala menunduk
untuk melewati pintu. sebuah komuni suara
burung, kodok dan serangga. berdebam. nangka
matang jatuh. tanah bergetar. anjing-anjing
menyalak mendengar jatuhnya. ada lubang tupai
dan kupu-kupu. di tanah, buah nangka retak,
menciptakan serangga-serangga. bau nangka
busuk merembes ke dalam ingatan. kebun nangka
dikelilingi buah nangka. seorang lelaki bersenjata
mencuri “tete de femme,” potret picasso, dari
galeri london.
setiap angin kencang datang, tangga memeluk
erat pohon nangka: sayangku, kamu tidak
boleh tumbang. rumah akan hancur kalau kamu
tumbang. nitiprayan, desa antara yogya dan
bantul, antara persawahan dan suara kaki kuda
ugo untoro. sepeda melayang dalam udara
lembab, sebelum semen, beton-beton dan
pengeras suara lebih banyak lagi datang. buah
nangka naik ke atas tangga, mencari tempatnya
pernah tumbuh. anjing menyalak. sebelum gempa
dan genteng-genteng berhamburan dalam sebuah
konser piano. salib lalibela yang berusia 800 tahun
dilaporkan hilang di ethiopia.
tanah menjadi merah ketika bunga-bunga pohon
sengon mulai berjatuhan. ribuan ulat-ulat mulai
bergerilya dari dahan-dahannya. burung-burung
berpesta memakani mereka. semut dan ular
bermigrasi sebelum hujan turun. shoichi yokoi,
perjuang perang dunia di jepang, yang tak tahu
perang telah berakhir, meninggal setelah 28
tahun bersembunyi di gua bawah tanah di guam.
dan hujan turun seperti ribuan tahun yang lalu.
pohon sengon, dahan-dahannya besar seperti ular
naga. aku memeluk hujan: sayangku, kamu tidak
boleh tumbang. rumah akan hancur kalau kamu
tumbang. di paris, presiden rusia, boris yeltsin
bergabung dengan 16 pemimpin nato.
tangga berjalan-jalan dalam kebun nangka.
pesawat terbang melintas. senja akan mengantar
kaki langit dengan merah yang paling matang dari
seluruh warna-warna dasar, menjelang malam.
suara serangga mulai membuat dinding dari
nyanyian yang masif, tanpa jeda. … bunda teresa
meninggal, gagal jantung, di kalkuta. apakah
waktu? apakah kenangan? apakah ingatan?
selembar daun waru, tubuhnya bolong-bolong
dimakan serangga, jatuh bersama dengan warna
kuningnya, menjelang coklat. amos tutuola,
penulis rakyat nigeria meninggal.
nama-nama dan peristiwa mulai berdatangan.
sebuah reuni dengan diriku sendiri. silakan masuk:
tamu-tamu, para sahabat, para kekasih, keluarga.
angin mati. daun-daun nangka menancap di
udara. kebakaran menghancurkan 3 lantai teratas
bank indonesia di jakarta. langit seperti kumpulan
arsip. silakan masuk, silakan. seluruh kebosanan,
seluruh kesepian, seluruh luka dan tawa-tawa
kecil, menjelang terbahak-bahak, telah berkumpul
di sini. izin tinju mike tyson dicabut, karena
menggigit kuping holyfield.
tubuhku berusaha menahan sebuah jatuh yang
akan jatuh. mulai merayap memasuki hari tua.
mengirim kabar basa-basi untuk jantung dan
ginjal. peluk hangat untukmu. ada yang tidak
mudah untuk berdiri bersama di bawah sinar
matahari pagi. 27 juli 1997, muhammad mahdi al-
jawahiri, penyair arab klasik dari irak, meninggal
di suriah.
tamu-tamu yang lelah oleh riwayat-riwayat yang
berulang, telah tertidur. siklus. seluruh tempat
dalam rumah penuh oleh tubuh mereka yang
tertidur. siklus. aku tidur di depan pintu bersama
anjing-anjingku, menunggu seseorang “yang-tak-
pernah-ada,” yang belum datang.
siklus
silakan masuk.
mencari asal-usul bersama dari kisah yang jatuh,
dan berdiri lagi, dan jatuh lagi — masuk, keluar —
BURNING TIRES JANUARY 15
i walk to school. wearing long
pants that flare at the bottom. first
day of high school, on budi utomo.
but today jakarta’s wearing clothes of
fire. black smoke billows upward.
flames like clumps of red cloud falling
to the street. cars are burning. proyek
senen shopping center, the first high-rise
building in jakarta to swallow hundreds of stores,
is becoming flame. the city as if
showing another side of itself, odd and crazed.
drivers of private vehicles tremble,
panic, leave their cars behind. more and
more cars are set on fire. windshield glass
shatters, roofs smashed in, stomped on. the heart
is paralyzed by blasts of flame and smoke. my head
like a burning car tire.
after the heart, the kidney, the bile, the fire revolts,
the city is like a pair of burst lungs filled
with the smoke of social inequity. i walk through
the high school gates for the first time,
into a colonial building with sturdy walls
and giant trees still left standing in
the yard. the classrooms are open-air. as i
try to sit in class, my eyes can still
look around outside: basketball court, nusa
indah blossoms, gutters, and a flag pole.
the fire blazes still. outside, people are burnt by
by wild suspicions. welcome to the first day of school,
january 15 1974, 12 noon. i
hear the university students’ demonstration.
i don’t understand, what sort of creature is a university student?
the malari incident burnt down all the japanese-
made vehicles. japanese prime minister tanaka
paid a visit to jakarta. and the university students
welcomed him by burning down japanese-made
vehicles, rejecting the threat of foreign
capital. burn and loot. i
hear hariman siregar, head of universitas
indonesia’s student council, holding a mass
meeting at ui’s salemba campus.
i walk over to the campus. i want to hear
the city’s heart. for the very first time i become a part of
the masses. studying politics from burning car tires.
the masses and i are in the same place,
in the same burst of flame. i am the masses
alone. a yellow coat and hariman’s roar,
they call him the “campus tiger,” as he
declaims. he asks us to gather all the burned-out
husks of cars, to exchange them for our friends
who have been arrested. the military
roars too—the night market at prinsen park on
mangga besar.
i go home. people are still gathering to watch
proyek senen full of smoke. fire eats into
its floors. eats into the hundreds of stores inside.
mother says proyek senen wasn’t just
set on fire, everything was looted. gold, shoes,
clothes, wristwatches, tv’s, looted. the city suddenly
as if overturned before your eyes. i could no
longer hear the city’s heart, this city getting
uneasy and reproachful. this city growing
with a lit fuse inside. this city
growing by tearing its old body to shreds
into an alien new form.
the revolt created new names in the ranks
of the student movement and the military, general
sumitro and ali murtopo among them. scorpion
generals eager to take a bite of power.
created a new stage for domestic politics.
politics with a lit fuse ignorant to the origins
of its fire, but always aware of precisely which wick would
be easy to burn: race, religion, and social
inequality. history of words militarized in the name
of anything at all. there’s a coup d’état motif in there, they
say. maybe a foreign capital allocation motif
too,they say.
night, a hard rain falls. our home,
invaded by water, floods. rainwater
doesn’t just drip from the leaky kitchen ceiling,
but seeps up from the ground too. i hear someone
knocking, hard, on the door, the sound of shoes
i don’t recognize coming in, splashing in
the water that flows over the floor. they
shine a flashlight into my eyes. they’re
soldiers, searching for the looters. their flashlight
shines into my eyes, feels like it’s never
gone away, even now, along with the fire.
along with the tires burning in my head.
datsun’s become an american citizen. making
a new nation everywhere. my first day of
school, i studied politics from burning tires.
BIOGRAPHY JOURNALISM
jackfruit leaves fall, wind, drift, jack-
fruit leaves stick to the walls of the house.
yards surrounded by yards. a javanese house, walls
of wood and termites. a low doorframe, head bows
to get through the door. a communion of voices:
bird, frog, and insect. boom. a ripe
jackfruit falls. the earth shudders. the dogs
howl hearing it fall a squirrel’s burrow
and butterflies. the cracked jackfruit on the ground
generates bugs. the smell of rotting
jackfruit seeps into remembrance. a jackfruit orchard
surrounded by jackfruit. an armed man
steals picasso’s portrait, “tete de femme,” from
a gallery in london.
whenever a strong wind blows, the ladder holds
the jackfruit tree close: my love, you must
not collapse. the house will be ruined if you
collapse. nitiprayan, village between yogya and
bantul, between rice fields and the clop of ugo
untoro’s horse’s hooves. a bicycle drifts through humid
air, before more cement and concrete and
loudspeakers come. a jackfruit climbs
up the ladder, looking for the site where
it once grew. the dogs howl. before the earthquake
and the roof tiles scattered in a piano recital. the 800-year-old
lalibela cross is reported missing in ethiopia.
the earth turns red when carpeted with fallen
mimosa blossoms. thousands of caterpillars
go guerrilla from its limbs. the birds
rejoice in feasting on them. ants and snakes
migrate before the rain comes down. shoichi yokoi,
japanese world war two soldier who didn’t
know the war had ended, passes away after 28
years hiding in an underground cave in guam.
and rain comes down just like it did thousands of years ago.
the mimosa tree, its boughs big as dragons. i hold
the rain in my arms: my love, you must
not collapse. the house will be ruined if you
collapse. in paris, russian president boris yeltsin
meets with the 16 heads of nato.
the ladder wanders the jackfruit orchard.
planes cross overhead. dusk will deliver
the horizon, the ripest red of
all primary colors, to night. insect sounds begin building a wall
from their massive, seamless song. … mother teresa
passes away, heart failure, in calcutta. what is
time? what is remembrance? what is memory?
a hibiscus leaf, its insect-bit body
full of holes, falls with its browning
yellow. amos tutuola,
nigerian folk writer, passes away.
names and events start arriving in droves.
a reunion with my own self. please, come in:
guests, dear friends, lovers, family.
the wind dies down. jackfruit leaves stick to
the air. a fire tears through the top three floors
of the bank indonesia building in jakarta. the sky like a gathering
of archives. please, come in, please. all the boredom,
all the loneliness, all the pain and little
laughs that grow into guffaws, are gathering
here. mike tyson’s boxing license is revoked, after
biting holyfield’s ear.
my body does its best to hold off a fall that
will fall. begins crawling into old age.
sends small talk to the heart and
kidneys. hugs and kisses. there’s something
hard to stand with, below the rays of
the morning sun. july 21, 1997, muhammad mahdi al-
jawahiri, the great arabic poet from iraq, passes away
in syria.
the guests, exhausted by the repeating
chronicles, have fallen asleep. cycles. the entire
house is full of their sleeping
bodies. cycles. i sleep out front with
my dogs, waiting for someone “who-has-never-
been,” who has yet to arrive.
cycles
please, come in.
seek our shared origins in a story that falls,
and rises again, and falls again—comes in, goes out—
“Ban Bakar 15 Januari”and “Jurnalisme Biografi” are from Prometheus Pinball. Richmond, Victoria: Reading Sideways Press, 2020.
Image by TK.
Afrizal Malna (b.1957 in Jakarta, Indonesia) is a poet, artist, and writer of short stories, novels, literary essays, and plays. His work has won a number of national and international literary honors, and he has performed at poetry festivals throughout Asia and Europe. His books available in English translation include Document Shredding Museum (Reading Sideways Press, 2019) and Morning Slanting to the Right (Reading Sideways Press, 2021). (Photo credit: Syska Liana)
Daniel Owen is a poet, editor, and translator between Indonesian and English. Recent publications include a revised translation of Afrizal Malna’s Document Shredding Museum (World Poetry Books, 2024). Daniel edits and designs books and participates in many processes of the Ugly Duckling Presse editorial collective and is a PhD candidate in the Department of South & Southeast Asian Studies at UC Berkeley.